Catatan Perjalanan Sabang, 14-17 Mei 2015 Part #1

Titik Nol Kilometer Indonesia.

Seperti apa sih ujung paling barat Indonesia? Dari dulu saya sudah penasaran untuk mengunjungi tempat ini.Terdengar eksotis, lengkap dengan cerita pantainya yang konon sangat indah.

Day 1, 14 May 2015

Long weekend Mei lalu (yap, post yang super late karena kesibukan kantor ­čśŽ ) akhirnya saya membolang sendiri ke Banda Aceh dan Sabang. Ada banyak bus malam yang bisa dipilih dari Medan menuju Sabang, dengan variasi harga Rp 170,000,- sampai Rp 250,000,- Bila memilih bus pk 19.00, kita akan sampai di Banda jam 6 pagi, waktu yang pas untuk mampir mencicipi kopi Aceh yang lezat di Dhapu Kupi. Segelas kopi dan semangkuk lontong sayur menjadi pembuka hari sekaligus ajang reunian saya dengan Desi, teman sesama Pengajar Muda.

Untuk menyebrang ke Sabang kita harus ke Pelabuhan Ulee Lheue (bisa menggunakan ojek/angkot labi-labi nomor 5). Ada 2 kali jadwal ferry/kapal lambat dalam sehari, jam 10 pagi dan 4 sore. Untuk yang memiliki budget lebih tersedia juga kapal cepat setiap pagi dan sore. Sebaiknya datang lebih cepat ke pelabuhan, apalagi saat long weekend.

Saya memilih kapal lambat sore hari, setelah berjumpa dengan anak-anak Kelas Inspirasi Aceh yang sangat bersemangat. Waktu tempuh kapal lambat 1,5 jam, sedangkan kapal cepat 45 menit. Di ferry kebetulan saya papasan dengan Camar dan Dila. Melihat rencana yang kurang lebih mirip, bergabunglah kami untuk menghemat transport dan tempat nginap.

Ternyata penginapan di kota mahal! Entah karena high season atau memang pasarannya segitu, kamar termurah yang kami dapat seharga 175 ribu, itu pun kamar mungil dengan kipas angin kecil. Lebih baik menginap di Iboih/Sumur Tiga langsung. Karena hari sudah gelap saat kami sampai, kami langsung beristirahat di penginapan.

Day 2, 15 May 2015

Pagi hari kami menyewa betor (becak motor) menuju Pantai Sumur Tiga. Ada beberapa penginapan nyaman disini, seperti Freddies dan Casanemo. Sayangnya saya kehabisan, harus book jauh-jauh hari berhubung kamar yang tersedia tidak terlalu banyak.

Pantaiii!!!

Cuaca hari ini mendung, namun pantai yang tenang dan bersih tetap menarik untuk dinikmati. Harus diingat, setiap hari Jumat tidak boleh ada aktivitas di pantai sampai selesai jumatan.

DSC09969 copy

Sumur Tiga Beach, sepi dan tenang

DSC09983 copy

Dari Sumur Tiga kami kembali ke penginapan, menyewa motor untuk pergi ke Iboih. Cukup banyak penyewaan motor disini, yang tentunya lebih hemat dibanding naik mobil/betor kemana-mana.

Perjalanan menuju Iboih sekitar 1 jam dengan jalur yang berkelok, lengkap dengan pemandangan laut. Sampai disana kami menginap di Olala, salah satu dari jejeran penginapan di ujung Iboih. Untuk penyuka ketenangan, saya sarankan lebih baik menginap di sebelah ujung, tidak ramai seperti di area pintu masuk. Ada banyak cottage tepat di pinggir pantai dengan kisaran harga Rp 125,000- s/d Rp 250,000,- tergantung kepandaian menawar. Anehnya, harga turis bule disini setengah harga turis lokal, jadi tempel saja turis bule yang sedang mencari penginapan supaya ikutan kena harga murmer, hahaha.

On the road

On the road

Cottage yang langsung berada di pinggir pantai, tiduran di gantole malam hari enak banget

Cottage yang langsung berada di pinggir pantai, tiduran di gantole malam hari  sambil lihat bintang enak banget

Sepanjang sore saya main di pantai, air yang jernih membuat karang-karang terlihat jelas. Plus ikan-ikan kecil yang berenang mengitari. Sayangnya berhubung ramai turis air di penginapan tidak keluar. Jadilah kami harus ke permandian umum untuk bersih-bersih.

Oiya untuk yang budget terbatas, lebih baik membawa nasi bungkus dari kota. Karena namanya juga tempat wisata, harga makanan sekitar 1,5-2x lipat biasanya.

Day 3, 16 May 2015

Uyeahh!! Cuaca hari ini super cerah! Laut terlihat sangat biru dan cantik.

Pagi-pagi kami menyusuri pantai sampai ujung, menikmati matahari pagi sambil foto-foto ceria. Di Yulia, penginapan paling ujung, ada karang batik dan ikan nemo yang lucu. Karang disini lebih bagus dari Pulau Rubiah, walau ikannya tidak sebanyak disana.

DSC00117

DSC00126

Agak siang Camar dan Dila pulang duluan, sementara saya nongkrong di cafe penginapan. Tiba-tiba ada cowo nanya ke ibu-ibu penginapan, “Bu, ada jual rokok?” Pas dilihat.. Donny Alamsyah aja dong!! Jeng jeng! Ganteng abis pake diving suit! Minta tolong sama ibu itu, eh gagal fokus fotonya. Yasudahlah yang penting gantengnya fokus, haha.

DSC00163

“Kamu diving juga kesini?” “Ngga, mau snorkeling aja.” Kenapa ga SKSD ikutan doi diving ya? #nyesel

Siangnya saya ditemani Raja, orang Sabang, pergi ke Nol Kilometer. Jalannya cukup curam, hati-hati untuk yang tidak terlalu bisa bawa motor. Untung pergi sama orang lokal, selain lancar menanjak, saya juga diajak ke private beach yang bagus banget.

Di perjalanan menuju Nol Kilometer ada spot-spot landscape yang kece

Di perjalanan menuju Nol Kilometer ada spot-spot landscape yang kece

DSC00198

DSC00289

Nol Kilometer!

DSC00244

Private Beach. Bagus, dan ga ada orang sama sekali disini

DSC00267

Bersambung ke Part #2

Expense :

Bus Medan-Aceh Non-Stop Mercy : Rp 250,000,-/orang
Kapal Lambat Banda-Sabang : Rp 30,000,-/orang
Mobil Pelabuhan Balohan-Kota : Rp 50,000,-/orang
Penginapan Kota : Rp 175,000,-/malam (3 orang)
Becak Kota-Sumur Tiga : Rp 30,000,- (bisa ber 3)
Sewa motor matic : Rp 90,000-/hari
Penginapan Iboih : 150,000,-/hari
Sertifikat Nol Kilometer : Rp 10,000,-
Snorkeling trip : Rp 400,000,- (include underwater camera, guide, boat, alat snorkel lengkap, bisa sampai 5 orang/trip)
Mobil Iboih-Pelabuhan Balohan : Rp 50,000,-/orang
Makan : Rp 15,000,- s/d Rp 40,000,-/meal
Bus Aceh-Medan Executive : Rp 170,000,-/orang

Advertisements