Dari Festival Religius Pasupatinath sampai Pokhara, Nepal Part #2

Pasupatinath Temple, Magical Shivaratri Festive

Ketika mengetahui Festival Shivaratri jatuh tanggal 17 Februari, saya langsung meniatkan untuk pergi ke Pasupatinath, kuil Siwa terbesar di Nepal.

Kerumunan ribuan orang merebak mulai dari pelataran kuil. Antrian panjang terjajar sampai sekitar 1 kilometer ke arah gerbang. Whoops, ternyata hanya orang Hindu yang boleh masuk, local pula. Aku papasan dengan beberapa jurnalis bule yang putus asa mencari jalan masuk.

Sudah jauh-jauh kemari harus bisa masuk! Tekadku dalam hati. Aku menelusup ikut berjejalan, mencoba bersembunyi menyaru dalam rombongan orang lokal. Yeah gerbang pertama lewat! Secara kebetulan ada sekelompok panitia yang memaksa penjaga membuka pintu sesaat. Namun ternyata masih banyak lapisan gerbang di dalam. Duh! Mana tak memegang tiket pula.

Malaysian? Malaysian?” Tiba-tiba penjaga menanyaiku cepat di saat aku mulai kebingungan. “Malaysian this way,” katanya lagi. Wah, ternyata ada sebuah grup dari Malaysia yang sedang wisata spiritual. Kesempatan. Aku sok-sokan ikut rombongan, barisan rapat membantu menutupi name tag peserta, plus pakaian turis mereka yang tidak jauh berbeda denganku. Penyamaran sempurna. Gerbang kedua, ketiga, dan keempat dilalui dengan lambat. Antrean bergerak seperti siput, menunggu giliran untuk memasuki kuil. Sepatu dibuka, bunga dan sesajen disiapkan, kamera harus disimpan. “No photo!” Tegas penjaga selalu. Mungkin mengambil foto akan memanggil bala. Entahlah.

Seorang anak kecil yang dikerumuni puluhan orang meminta doa. Anak sakti?

Seorang anak kecil yang dikerumuni puluhan orang meminta doa. Anak sakti?

Sejam lebih mengantri, akhirnya tiba giliran barisanku untuk masuk. Kulangkahkan kaki, dan menyaksikan pemandangan menakjubkan di dalam.

Ribuan orang berjalan perlahan mengitari bangunan utama dan patung sapi emas raksasa, dikelilingi oleh ratusan Sadhu (Baba) yang mengibaskan semacam ikatan benang dan menorehkan tanda di kening orang-orang. Asap dupa dimana-mana, bercampur dengan marijuana yang dihisap para Sadhus. Ya, Shivaratri memang menjadi ritual legal untuk berhalusinasi massal, mengaburkan batas profan dan sakral, diri dan semesta.

Aku berjalan perlahan, meresapi atmosfer yang baru pertama kurasakan. Aneh sekaligus magis. Entah dari mana perasaan rileks ini, mungkin pengaruh kepulan asap yang mengelilingi. Harum lembut yang membuat ngantuk, keramaian yang ritmis, rasanya aku terperangkap dalam sebuah lubang nyaman.

Sayangnya waktu berlalu begitu cepat, aku sudah terlambat untuk janji bertemu Beemal, pemuda lokal yang akan menemaniku ke Pokhara.

Baba, sebutan mereka untuk orang suci yang dianggap bisa mendoakan mereka

Baba, sebutan mereka untuk orang suci yang dianggap bisa mendoakan mereka

Phewa Lake, Pokhara

6 jam perjalanan melintasi perbukitan dari Kathmandu terletaklah Pokhara, kota kecil tempat bermacam rute trekking bermula. Phewa Lake, Boudanath Temple, Air Terjun Davis, dan paragliding di Sarangkot, adalah beberapa pilihan yang ada disini. Berhubung prioritasku kesini untuk trekking, aku hanya sempat naik perahu di Phewa Lake pagi hari.

Kabut tebal menyelimuti kota, pegunungan Himalaya yang harusnya terlihat pun masih jadi mimpi. Perahu kami memecah permukaan danau yang tenang, sunyi sekali disini. Menghanyutkan sekaligus membuat santai. Di tengah danau terdapat temple mungil yang cantik. Setiap pagi banyak orang yang menyebrang kesini untuk berdoa.

Fogging Phewa Lake

Fogging Phewa Lake

Temple di tengah danau. Sukaa! Suasananya dapet banget

Temple di tengah danau. Sukaa! Suasananya dapet banget

Pemandangan ke danau dari pinggir jalan. Bye Phewa, semoga next time kita bertemu dengan sunshine!

Pemandangan ke danau dari pinggir jalan. Bye Phewa, semoga next time kita bertemu dengan sunshine!

Di atas kepala kami kadang melintas pesawat-pesawat kecil dan parasut berwarna warni. Paragliding dan Mountain Flight pasti seru kalau cuaca cerah (dan punya duit!), boleh dicoba walau harganya lumayan mahal ($100 dan $200).

Selesai berperahu ria dan packing, aku dan Beemal naik jeep menuju Nayapur, pos pendakian (1 jam dari Pokhara). Oiya, untuk trekking kita harus mengurus ijin terlebih dahulu. 2 pas foto, fotocopy paspor, dan biaya USD $20-40 tergantung rute yang diambil. Karena semua sudah diurus Beemal, kami dengan cepat bisa langsung masuk.

Untuk yang pertama kali kesini, aku menyarankan lebih baik menggunakan jasa guide, apalagi untuk yang belum terlalu berpengalaman mendaki. Sangat membantu dan membuat aman. Dia pun tahu tempat menginap terbaik dan restoran yang rasanya enak. Ecological Trekking yang kugunakan kemarin sangat recommended!

White River, sungai besar yang kita lewati dari Pokhara menuju

White River, sungai besar yang kita lewati dari Pokhara menuju Nayapur

Catatan Tuesday (17/2) – Wednesday (18/2) :

Bus Thammel-Pasupatinath Temple : NPR 15 + 25 (1 jam)
Taxi Pasupatinath – Thamel : NPR 600 (20 menit)
Micro Bus Khatmandu-Pokhara : NPR 500 (6 jam) – alternative : tourist bus (NPR 800-1000)
Boat @Phewa Lake : NPR 430/hour
All accommodation/transportation since Pokhara : included trekking package
Kurs :
USD $1 = NPR 98
NPR 1 = IDR 128
-Bersambung ke part #3

Advertisements