Nepal, Sebuah Negara Cantik dengan Keramahan Luar Biasa Part #1

Nepal? Yeah, negara ini tidak begitu familiar untuk tempat wisata, bukan?

Tapi dari dulu saya bermimpi untuk melihat Pegunungan Himalaya, dan setelah Tibet yang visanya susah didapat, pilihan kedua jatuh ke Nepal yang juga berbatasan langsung dengan Himalaya.

Setelah kegalauan tiket mahal dan ga ketemu temen pergi bareng, akhirnya saya memutuskan untuk backpackeran solo kesana berbarengan dengan long weekend imlek.

Kathmandu, the Capital City of Nepal

Medan-KL, KL-Kathmandu. Sampailah saya di Nepal!

Saran : kalau ada budget belilah kursi di pinggir jendela sebelah kanan. 30 menit sebelum sampai kamu akan disuguhkan jejeran Pegunungan Himalaya yang menjulang di atas awan. Cool!

Himalayan Mountain above the clouds! View from my seat in the aeroplane

Himalayan Mountain above the clouds! View from my seat in the aeroplane

Bandara Kathmandu kecil dan agak sumpek, 11-12 lah sama bandara Bandung, meskipun tourism adalah salah satu pemasukan utama negara ini. Mengurus VOA (Visa on Arrival) Nepal sangat mudah, cukup mengisi form, menyertakan 1 lembar pas foto 3×4, dan USD $25 untuk 15 hari. Voila! Cap visa langsung tertera di paspormu.

Di pesawat kebetulan saya bertemu dengan Armand, yang pergi dengan rombongan Backpacker Dunia. 16 orang bo! Banyak sekali, hehe. Seru tapi karena plan yang ga cocok akhirnya saya tetap melanjutkan perjalanan sendiri.

DSC00082

Hello anak-anak BD!

Dari bandara saya nebeng mobil anak-anak BD sampai Thamel, daerah pusat penginapan turis yang murah meriah (thanks a lot guys!). Kesan pertama saya tentang Nepal adalah dingin, kering, dan agak kumuh. Penghujung winter masih menyisakan angin yang menusuk tulang, lalu lintas disini sangat ajib karena tidak ada TRAFFIC LIGHT! Ya, bahkan di perempatan yang super ramai pun tidak ada lampu lalu lintas, hanya beberapa polisi yang mengatur. Namun mobil-mobil patuh mengikuti arahan mereka. Luar biasa.

Kamar dorm di Shree Tibet Guest House menjadi pilihan saya malam ini. Ternyata, harga di booking.com lebih mahal dari aslinya! Lebih baik untuk langsung datang saja saat low season. Math, orang Amerika yang sedang mengerjakan project pendidikan di Nepal; Jean, mahasiswa Jerman yang lagi long trip menelusuri Asia Timur, dan Keiko, turis asal Jepang menjadi teman sekamarku malam ini.

Pergi sendiri membawa sensasi yang sangat berbeda. Kesendirian membuat keberanian menegur orang asing bertambah, interaksi menjadi wajib, bertukar cerita pun tak terelakkan. Menarik, bukan? Bertemu dengan teman-teman dari penjuru dunia. Selintas lewat memang, tapi bisa saja mengubahmu selamanya.

DSC00116

Me-Jean-Math @Places, tempat makan enak dan nyaman yang terjangkau

Momo, makanan khas Nepal. Rasanya seperti dumpling dengan bumbu saos.

Momo, makanan khas Nepal. Rasanya seperti dumpling dengan bumbu saos.

Patan Durban Square, Beautiful Ancient Place

Setelah packing keesokan harinya, saya melangkah menuju Bus Station, 20 menit jalan kaki dari hotel ditemani Math. Ada banyak pilihan, mulai dari bus lokal (15-45 NPR) sampai taksi (300-1000 NPR). Melihat harga yang super jomplang, sudah tentu bus menjadi pilihanku.

Tujuan pertama adalah Patan. Tak makan waktu lama untuk mencapai halte bus Patan, dilanjutkan berjalan kaki sebentar ke Durban Square. Tampang turisku memang tak terelakkan, menyebabkan aku selalu dimintai tiket setiap masuk kemana pun (fyi, tempat wisata Nepal free untuk orang lokal, berbahagialah mereka yang berwajah mirip orang sana, hehe). “China? Chinese?” Sepanjang jalan aku selalu ditanyai. “No, Indonesian.” “Malaysian?” “Indonesia, near Malaysia. Bali, Bali.” “Ow Bali! What a beautiful country!”

Oke, gw nyerah. Memang sudah kodratnya nama negara kita lebih tidak terkenal daripada Bali.

Tiket masuk situs kuno bervariasi, mulai dari USD $5/NPR 500 (Patan Durban Square), NPR 750 (Kathmandu Durban Square), NPR 1000 (Pasupatinah Temple), sampai NPR 1500 (Bhaktapur City). Tapi jikalau kita kreatif mencari jalan tikus dan beruntung bisa masuk tanpa ketahuan, kita bisa masuk gratis!

Seperti yang saya lakukan.

Patan Durban Square adalah favorit saya diantara semua Durban Square yang saya datangi (umumnya setiap kota disini punya satu). Batu bata oranye membentuk susunan bangunan antik yang megah, burung-burung merpati banyak berkumpul di pelataran, sesekali terbang melintas berpindah ke atap. Orang-orang disini ramah-ramah, sayangnya mental daerah turis membuat anak-anak begitu mudah menegur untuk meminta uang/coklat dari para turis. Saya akhirnya membagi coklat batangan di tas pada seorang anak yang selalu mengikuti dengan wajah memelas. Berpindah ke arah utara, saya sedikit tidak beruntung. Bapak-bapak berwajah sangar menanyai tiket, dan mengusir saat saya tidak memilikinya. “No photo!” Tegasnya. Memencet shutter dari luar pagar pun tidak diperbolehkan sebelum membeli tiket. Mungkin ini saatnya saya lanjut ke Nagarkot, berhubung hari pun sudah siang.

Patan City

Patan City

Patan Durban Square

Patan Durban Square

DSC00186

DSC00196

Selfie dulu yuk dek

(Still) Patan Durban Square

(Still) Patan Durban Square

Nagarkot, Everest View if You’re Lucky

Dari Patan kita harus naik bus ke Bhaktapur dulu sebelum pindah bus ke Nagarkot. Perjalanan menyusuri perbukitan yang cukup menantang, jalanan sempit dengan jurang dalam di sisi jalan, terkadang bila ada bus yang datang dari arah berlawanan supir bus meminggirkan bus sampai miring ke arah lereng. Beberapa menit berlalu dalam ketegangan, semua penumpang menahan napas saat bus maju sesenti demi sesenti. Fiuhh! Akhirnya bus bisa lewat dengan selamat. Deg-degan!

Nagarkot (2.195 mdpl) adalah perbukitan dimana kita bisa melihat Everest saat hari cerah. Sayangnya cuaca super berkabut saat saya tiba disana. Waktu terbaik untuk mengunjungi Nepal adalah September, katanya bulan-bulan segitu langit cerah setiap hari, peralihan dari summer ke fall. Teman saya pun masih mendapat cuaca bagus bulan Desember kemarin. Habis ngider beberapa saat, saya menginap di Sherpa Alpine Cottage, sebuah penginapan nyaman yang dikelola oleh 3 gadis manis Nepal.

Cuaca disini membekukan, kawan. Terutama pada malam hari. Untungnya saya membawa sleeping bag kemana-mana, sangat berguna disini!

DSC00356

Penginapannya. Lucu dan cozy ya.

Lucu!

Cute!

Tebalnya kabut di luar

Tebalnya kabut di luar

DSC00377

Penghujung Winter yang kering

Bhaktapur, Old City protected by UNESCO

Kembali ke masa lalu. Itulah yang kurasa saat melangkahkan kaki menuju gerbang Bhaktapur. Seluruh kota terbangun dari batu bata atau bebatuan berselimut lumpur. Bangunan tinggi memagari lorong-lorong kecil yang memotong kota dengan tidak teratur, dihiasi beberapa temple di seluruh penjuru. Penghuni kota pun berpakaian kain panjang berwarna cerah, mengerjakan berbagai kesenian menarik. Pembuat keramik, pelukis, penenun, pemahat kayu bisa kita temukan dengan mudah.

Durbar Square dan Nyatapola Temple berdiri megah di tengah kota. Saya berpapasan dengan sekelompok anak sekolah yang ceria. Mereka dengan berani menyapa orang asing tanpa malu. “Hey, where are you come from? China?” “What’s your name?” Seru mereka. Pose manis pun disuguhkan saat saya mengarahkan kamera mungilku depan mereka.

Saya kembali beruntung bisa menemukan jalur tersembunyi ke dalam, namun bila kalian tidak menemukannya belilah tiket, sangat worth it untuk membayar masuk kesini! Kadang di tengah jalan kita bisa menemukan berbagai atraksi dengan kostum beragam. Menarik!

Bhaktapur City

Bhaktapur City

Ketemu anak-anak SD yang ceria. Hi Guys!

Ketemu anak-anak SD yang ceria. Hi Guys!

Disana banyak ditemukan kolam dengan segala kesibukannya

Disana banyak ditemukan kolam dengan segala kesibukannya

Beard Tree, what a big tree!

Beard Tree, what a big tree!

Let's go to Bhaktapur Durban Square!

Let’s go to Bhaktapur Durban Square!

DSC00500

DSC00501

Tokonya lucu-lucu!

DSC00517

Pottery Center

Sering ketemu hal-hal ajib di jalan. Sukaa!

Sering ketemu hal-hal ajib di jalan. Sukaa!

Catatan Saturday (14/2) – Monday (16/2) :

Bus Kathmandu-Patan : NPR 15 (15 menit)
Bus Patan-Bhaktapur : NPR 25 (1 jam)
Bus Bhaktapur-Nagarkot : NPR 45 (1,5 jam) – vice versa
Bus Bhaktapur-Kathmandu : NPR 25 (1 jam)
Guest house : NPR 330 – 500/night
Meal : NPR 200-400/meal

Kurs :
USD $1 = NPR 98
NPR 1 = IDR 128
-Bersambung ke part #2

Advertisements