Teluk Aur, Harmoni Keindahan dan Keramahan part #2

Hari ketiga kami berencana mengunjungi Jaung 1 dan Jaung 2, kampung Dayak yang masih termasuk desa Teluk Aur. Karena hujan badai, rencana baru terealisasikan keesokan harinya. Kami kembali berjalan kurang lebih 1 jam menelusuri hutan menuju danau, dilanjutkan naik sampan menuju danau Penggelam. Batang-batang pohon menjuntai ke bawah, di atas kami terkadang terlihat hitam-putih burung-burung enggang berterbangan.

IMG_9673 copy

Tak berapa lama kami tiba di sisi lain danau. Setelah melewati lahan berlumpur, sampailah kami di sungai gambut. Disana kami dijemput oleh Bakat, seorang pemuda Dayak Iban. Dia membawa kami dengan sampan 2 pknya sampai ke desa. Jaung 2 terlihat lengang dan sepi. Hanya tampak sekitar dua puluh rumah, 1 gereja, dan 1 rumah betang yang panjang. Rumah Betang adalah rumah khas Suku Dayak, setiap rumah berisi sekitar 10-15 keluarga. Disana kami melihat para ibu-ibu yang menganyam keranjang dari rotan, katanya mereka juga masih membuat tenun dayak pada saat-saat tertentu. Sayang sekali tidak ada yang sedang menenun saat kami kesana. Aku dan Aya mencoba baju khas mereka, cantik sekali dengan manik-manik yang berwarna-warni. Baju itu terasa berat karena banyaknya manik-manik dan koin dan disatukan oleh rantai.

Dusun Jaung II

Dusun Jaung II

Rumah Betang, rumah panjang khas Suku Dayak. Puluhan keluarga tinggal bersama disini

Rumah Betang

Seorang nenek Dayak Iban yang sedang menganyam ojong dari rotan

Seorang nenek Dayak Iban yang sedang menganyam ojong dari rotan

Pakaian dari manik dan koin khas Dayak Iban, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membuat satu stel baju ini loh!

Pakaian dari manik dan koin khas Dayak Iban, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membuat satu stel baju ini loh!

Aku dan Aya, PM yang bertugas di Teluk Aur

Aku dan Aya, PM yang bertugas di Teluk Aur

Puas berfoto ria kami beranjak kembali ke lanting, kali ini meneruskan perjalanan menuju Sarai Tujuh melewati aliran sungai gambut yang berwarna merah terang. Kicauan berbagai burung dan suara serangga mewarnai kesejukan hutan tropis yang memukau, rasanya begitu tentram terayun-ayun di sampan sembari mencelupkan jemari ke air yang dingin. Sekitar 45 menit kemudian perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 1 jam, dan sampailah kami di kaki sarai (air terjun). Sayang karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat melihat air terjun tinggi di hulu.

IMG_9890 copy

Sampan kami membelah sungai gambut berwarna merah terang

bebatuan besar kaki sarai

bebatuan besar kaki sarai

Menjelang senja kami kembali ke sampan. Milir menyusuri sungai gambut, berlanjut ke danau super biru. Pakai acara habis solar segala pula di tengah perjalanan, terpaksa kami mendorong manual menggunakan potongan kayu, haha. 4 hari yang kuhabiskan di Teluk Aur sukses membuatku jatuh cinta pada alam dan penduduknya. Mata dan hati ini terasa disejukkan, kenyamanan yang menyenangkan. Terima kasih Aya yang sudah mengajakku, kamu memang sangat berbakat jadi nyonya rumah yang baik. Makasih juga Uwak, Mak, Icu, Ira, Bapak, Ibu, dan segenap penduduk Teluk Aur yang mengingatkanku kembali kalau keramahan orang Indonesia itu memang luar biasa.

IMG_9968 copy copy

IMG_9998a copy

Danau Penggelam

Kembali ke Teluk Aur!

Kembali ke Teluk Aur!

 

Sepit Putussibau-Teluk Aur         : Rp 150.000,-/orang

Solar pp ke Jaung                             : Rp 100.000,-/sampan

Advertisements