Titik Nol Laskar Borneo!

*ini tulisan 8 bulan lalu yang baru bisa diupload sekarang karena keterbatasan akses. Tapi seperti kata pepatah, better late than never! ;D*

Perpisahan hampir selalu dibarengi air mata, tak terkecuali yang satu ini. Setelah melepas satu persatu tim yang lain, pertengahan Juni 2013 aku beserta 9 orang teman memulai petualangan kami ke tanah Kalimantan. Dari Jakarta kami naik pesawat menuju Pontianak. Saat sudah dekat hamparan hutan rimba yang terbentang luas terlihat begitu hijau di bawah sana, terbelah oleh coklat-hijaunya sungai Kapuas.  Terik matahari yang membakar kulit langsung menyambut sesampainya disana, membuat peluh seketika membasahi sekujur tubuh kami.

-Tim Kahul dan Lebak yang terakhir berangkat beserta para  fasil. Kusut abis tampang orang-orang yang nunggu sampe pagi di bandara. We Love you Lebak, we do~

-Tim Kahul dan Lebak yang terakhir berangkat beserta para fasil. Kusut abis tampang orang-orang yang nunggu sampe pagi di bandara. We Love you Lebak, we do~

-barang kami yang berjibun, over baggage 57 kilo aja dong ber10, haha-

-barang kami yang berjibun, over baggage 57 kilo aja dong ber10, haha-

Di Pontianak kami beristirahat sejenak di rumah Bu Ida , kepala sekolah salah satu SD penempatan. Disini ada tradisi ‘melepus’, setiap kita ditawari makan harus dimakan sedikit sekenyang apapun, tidak boleh ditolak. Untungnya kami sedang lapar berat sehingga kerupuk basah (sejenis pempek khas sini), sayur lodeh, ikan asap, sampai semua lauk habis nyaris tak bersisa.

IMG_0124

Dari Pontianak kami naik perintis (bus kecil) menuju Putussibau, ibu kota kabupaten Kapuas Hulu. Ada 2 pilihan transportasi : bus dan taksi (Kijang). Kami memilih bus karena selain lebih murah, kendaraan ini juga melaju dengan kecepatan yang lebih manusiawi. Perjalanan memakan waktu lebih dari 20 jam karena ada jalan amblas. Terkadang jalur satu-satunya ini luruh di beberapa titik dan menyebabkan macet total hingga berjam-jam. Malas menghabiskan waktu di bus yang panas seperti oven, kami turun dan menghampiri rumah warga yang terletak di pinggir jalan. Anak-anak sini lucu-lucu..!! Mukanya khas dayak yang agak persegi dan sedikit sipit. Sayangnya mereka nyaris tidak bisa bahasa Indonesia, sesuatu yang sangat membatasi komunikasi kami. Harus secepatnya belajar nih, yoshh!

-20 jam yang sukses membawa semuanya ke alam mimpi-

-20 jam yang sukses membawa semuanya ke alam mimpi-

-Antrian kala jalan amblas-

-Antrian kala jalan amblas-

Debu dan cuaca kering menyertai kami sepanjang jalan berhubung sedang musim kemarau. Di beberapa tempat jalan masih tanah bergelombang yang membuat bus kami terlonjak-lonjak selama beberapa jam. Seru!

Dan yak! Sampailah kami di Putussibau, titik berkumpul kami. Kota Putussibau bisa dibilang kecil. Hanya ada 3 jalan utama, beberapa minimart, dan 1 toko buku untuk kami berbelanja. Terdapat beberapa restoran dan rumah makan di sepanjang jalan, yang menarik masih ada tempat nonton misbar (gerimis bubar) di tepi sungai Kapuas. Langit bersih dari polusi, bulan dan bintang tampak cantik memenuhi pitam malam. Dari Putussibau kami akan berpencar menuju 10 titik mulai dari Jangkang, Kepala Gurung, Silat, Teluk Aur, Semala, sampai Bungan Jaya nun jauh disana. Semangat memulai titik awal petualangan setahun ke depan! 😀

-Bus melewati jembatan yang melintasi Sungai Kapuas-

-Bus melewati jembatan yang melintasi Sungai Kapuas-

-Laura-Furqan-Kris-Iwa-Aya-Andri-Ana-Jeffry-Raras-Izza, 10 Laskar Borneoku sayang-

-Laura-Furqan-Kris-Iwa-Aya-Andri-Ana-Jeffry-Raras-Izza, 10 Laskar Borneoku sayang-

Transport :

-Pesawat Jakarta-Pontianak : Rp 500.000,- s/d Rp 1.100.000,- tergantung musim

-Bus Pontianak-Putussibau : Rp 300.000,-/orang

Putussibau, Juni 2013

Advertisements