Catatan Perjalanan Papandayan 2-3 Maret 2013

Yey! Mendaki lagi gunung perdana saya. Yup, masih inget banget Juli 2010 beres inisiasi saya nimbrung beberapa junior pergi kesini. Berbekal ransel kecil, sepatu kets, dan jaket tipis si newbie akhirnya menderita akibat udara dingin dan tanah licin bekas hujan.

Tapi sekarang beda dongg,, jauh lebih prepare, hehe. Sleeping bag, jaket dan sepatu gunung wajib selalu dibawa. Fisik pun sudah lebih terbiasa, ga ngos-ngosan kaya waktu pertama dulu.

Sabtu, 2 Maret 2013

09.00 : Dari Bandung kami naik elf menuju Cisurupan (mending jangan yang ngeteng ke terminal biar lebih murmer), lanjut kolbak menuju pos pendakian. Di Cisurupan stuck agak lama, nunggu teman yang menyusul dari Jakarta.

15.00 : Sampai pos pendakian. Mendaftar dan langsung berangkat!!

Perdana naik banyakan 17 orang, gabungan anak2 ITB, Unpad, IndoRunAway, dan Kampus Peduli 🙂

IMG_1295

I : Om-Iki-Dian-Iklas-Ayu-Tico-Yuda-Waaji-Elp-Kiki
II : Arif-Rizki-Madi-Galih-Ale-Ruben-Laura

IMG_1314

Seperti biasa, berdoa dan tos! dulu

Rute Papandayan dimulai dari lereng kawah yang berkerikil landai. Bau belerang kadang tercium cukup tajam disini. Setengah jam perjalanan jalur memasuki vegetasi hutan. Perjalanannya santai, relatif tidak terlalu menanjak. Hujan mulai turun saat kami berada di bagian longsor, membawa kabut dan angin yang cukup dingin.

IMG_1349

IMG_1337

Kawah belerang dan ilusi kamera

17.00 : Tiba di Pondok Salada bertepatan dengan redanya hujan. Kami langsung membuka tenda, membuat ‘pojok dapur’ dan menyiapkan makanan, serta menggali parit mengelilingi tenda untuk mengalihkan aliran air. Cukup banyak tenda yang berdiri di sekitar Salada, bahkan sampai susah mencari tempat aman untuk buang air, haha.

18.30 : Sop sayur + nasi adalah menu malam ini. Kuah-kuahan memang paling top untuk cuaca dingin! Nasinya keras, tapi di gunung memang cuma ada enak dan enak banget. ;p Selesai makan beberapa langsung masuk tenda dan tidur. Cupu sekali padahal baru jam 8 coba, biasa kita nongkrong sampe tengah malem. Kita ber-17 dibagi 4 tenda. Tenda cewek cuma muat 4 orang jadi salah satu harus bareng cowo. Dan sayalah yang diminta gara-gara katanya paling ga kaya cewek. Cih lady gini padahal. Mana si Iki tidurnya grasak-grusuk banget pula di sebelah bikin kebangun terus. *ceritanya bete*

Minggu, 3 Maret 2013

06.00 : Bangun, males summit attack ngejer sunrise soalnya langit berawan. Alhasil kami santai-santai masak2 cantik ngabisin logistik. Gawatnya spiritus yang dibeli agak abal jadi cepat habis, untung masih cukup walau pas-pasan. Masakannya lebih gaul dong, ga cuma yang instan-instan seperti pendakian sebelumnya :3

IMG_1516

Masakan kami B-)

IMG_1543

Pondok Salada

10.00 : Cabut ke Tegal Alun. Tadinya mau lewat tebing batu-batuan besar, eh salah jalan jadi ke jalur yang banyak pohon-pohon. Semakin atas jalurnya semakin sempit, mulai curiga kayanya salah deh, apalagi banyak banget ranting yang nutupin. Kami pantang menyerah dan terus menerobos. Kerir kami asal tabrak semak belukar, yang penting lewat! Lagipula lebih males turun lagi, terjal dan licin soalnya. Sampailah di titik yang bener-bener stuck! Ga ada jalur kemanapun! Gawat! Diterobos pake golok juga susah. Akhirnya dengan berat hati kami turun. Ah dudul! Rame tapi berasa sia-sia. 😦

IMG_1574

Pemandangan dari jalur-nyasar

12.30 : Ambil jalan lewat Hutan Mati. Keren deh! Ribuan pohon mati tersebar di tanah putih bekas aliran lahar. Pas banget buat foto-foto! 😀 Dari hutan mati jalur mulai menanjak. Dan HUJAN! Bukan sekedar gerimis, tapi hujan deras yang membuat semuanya basah kuyup.

IMG_1670

IMG_1673

Hutan Mati

14.00 : Finally Tegal Alun!! Sayangnya hujan masih lebat jadi ga berani mengeluarkan kamera. Tegal Alun adalah padang edelweissnya Papandayan, banyak gerumbulan edelweiss memenuhi tempat yang luas ini. Cantik sekali. Kami tidak melanjutkan ke puncak karena keterbatasan waktu, dan langsung turun ke base camp.

Perjalanan turun tak kalah rame. Sempat melewati sungai yang meluap deras sampai kami harus pegangan satu sama lain agar tidak hanyut. Kabut tebal pun kadang menyelimuti kami membawa suasana mistis yang gimana.. gitu. Entah kenapa buat saya gunung lebih romantis dari pantai *upss*.

16.30 : Sampai basecamp, makan dan ganti baju, sewa kolbak sampai terminal.

20.00 : Terpaksa membayar lebih mahal untuk elf karena sudah malam. Baru tau harga siang-malam bedanya lumayan :O

Budget :

-Belanja logistik & obat2an : Rp 30.000,-

-Elf Terminal Caheum-Cisurupan : Rp 13.000,-

-Makan siang : Rp 10.000,-

-Kolbak Cisurupan-pos pendakian : Rp 13.000,- (minimal sewa borongan Rp 120.000,-/pick up. Semakin banyak semakin murah)

-Tiket masuk Papandayan : Rp 2.000,-

-Makan sore : Rp 7.000,-

-Kolbak pos pendakian-Terminal Garut : Rp 13.000,- (Rp 250.000,-/17 orang)

-Elf  Terminal Garut-Bandung (Caheum) : Rp 19.000,- (Rp 300.000,-/16 orang)

Total Rp 107.000,-

Advertisements