Merapi : Badai Tahun Baru

Akhir Desember 2011 saya, Philip, Nyoman, Putri dan Ikhlas memutuskan untuk merayakan tahun baru di puncak gunung. Setelah sederet nama mulai dari Gunung Arjuno, Lawu, dan sebagainya, berlabuhlah kami di Gunung Merapi, gunung yang menurut info cukup aman di tengah musim hujan waktu itu.

Dan berangkatlah kami, menaiki kereta ekonomi dari Bandung menuju Solo. Jalur naik dari New Selo menjadi satu-satunya jalur aman setelah letusan tahun 2010, dan disini terdapat base camp yang bisa dijadikan tempat menginap. Cuaca cukup dingin saat kami tiba disana, bahkan hujan deras disertai badai turun saat malam menjelang. Kami cukup khawatir rencana untuk mendaki subuh besok bisa jadi batal bila badai tidak berhenti. Untunglah sekitar jam 5 pagi hujan mulai mereda, meski kabut masih menutupi jarak pandang.

Selesai beres-beres, jam 7 pagi tanggal 31 Desember kami pun memulai pendakian. Jalur gunung Merapi tidak terlalu sulit, tidak ada jalur ekstrim yang menguras tenaga. Kami pun tiba di tempat terbuka setelah 4 jam perjalanan. Sebenarnya biasa orang menginap di Batu Gajah atau Pasar Bubrah, namun kami memutuskan untuk menginap di daerah sebelumnya. Selain ada batu besar untuk menjadi penghalang angin, hujan juga mulai turun lagi. Ternyata tanah di Merapi keras juga! Bebatuan yang hampir tidak bisa ditembus dan pasir yang langsung longsor ketika ditusuk. Butuh waktu dan tenaga untuk bisa menancapkan pasak-pasak tenda, tapi akhirnya kami sukses juga mendirikan tenda miring sebelah. Yeyy!!

Laura-Putri-Nyoman-Iklas-Philip

Selesai mendirikan tenda kami lalu tidur sore sebentar karena gerimis sangat mengundang mata untuk terpejam. Tapi rencana hanya tinggal rencana, baru saja 10 menit selesai menggelar matras dan sleeping bag, si gerimis memutuskan untuk menjadi hujan lebat. Kami pun kalang kabut menggeser barang ke tengah. Dan sialnya, air hujan merembes tepat ke tengah tumpukan itu! Philip dan Nyoman keluar memasang trash bag untuk menghalangi air, yang langsung terbang tanpa daya tertiup angin. Pokoknya lengkap sekali kebasahan kami saat itu.

Sekitar pukul 8 malam akhirnya hujan reda juga. Ternyata di luar sudah banyak pendaki lain berdatangan. Rupanya banyak yang berpikiran serupa untuk menghabiskan tahun di atas gunung. Kami masak, memanggang marshmallow, menikmati coctail buah dicampur nutrisari sambil menunggu tengah malam tiba.

Dann…… HAPPY NEW YEAR 2012!!!

Tiba-tiba ada beberapa kali letusan kembang api dari Batu Gajah. Astaga, niat sekali orang yang membawanya! Di depan kami pun terhampar city light sejauh mata memandang. Cahaya kembang api bermunculan seolah tak ada habisnya, membentuk bulatan-bulatan yang seolah meledak saling susul menyusul. Saya sangat menikmati malam pergantian tahun kali ini, tak lupa berdoa untuk tahun yang lebih baik 🙂

Itu tangan saya dan Putri maksudnya ingin membentuk 2-0-1-2. Kelihatan?

Kembang Api Batu Gajah

Dengan pakaian yang masih lembab kami kembali masuk ke dalam tenda dan mencoba untuk tidur. Pukul 4 pagi kami bangun dan memulai summit attack. Sebenarnya kami mencapai puncak dalam waktu 2 jam, tapi sayang sekali kabut masih tebal sehingga sunrise terhalang awan. Tapi,, saat sampai puncak bayangan… WOWW,, awannya keren banget saudara-saudara!! Baru kali itu saya berada di antara lapisan awan, serasa seluruh dunia terdiri dari awan! Di atas ada awan, di tengah ada awan, di bawah juga ada. Dan tercapailah mimpi kanak-kanak saya untuk berdiri di negeri di atas awan… :’)

Gagal Sunrise

Foto wajib : Full Team bersama sang Merah Putih (hasil pinjaman)

DUNIA AWAN!

Oops,, saat muncak terjadilah insiden yang menguras harga diri pimpro. Awalnya sih kecil, hanya sedikit robekan di tengah celana. Tapi makin lama robekan memanjang sampe mata kaki! Kalimat “wong edan”, “tarzan naik gunung”, “di atas ngapain aja mas?” sering terdengar untuk menyapa masbro Philip. Saya dan Ikhlas yang MT pun langsung melenggang santai seolah tidak kenal pada oknum penderita, haha ~

Just watch

Selesai berfoto ria kami turun kembali melewati Pasar Bubrah dan Batu Gajah. Oiya, konon katanya ada orang-orang yang dapat ‘melihat’ atau ‘mendengar’ ada pasar besar di tempat ini, makanya tempat ini jadi dinamakan Pasar Bubrah. Batu Gajah pun dinamakan demikian karena bentuknya mirip kepala gajah dari jauh (jadi ingat lambang kampus saya #eh).

Kelihatankah kepala dan belalai si gajah?

Ngomong-ngomong alam memang baik yah, sebagai ganti kabut dan awan yang terus menyelimuti pemandangan, kami diberi lengkungan pelangi yang indah, setengah lingkaran sempurna! Dari Batu Gajah sampai kaki bukit di bawah kami. Untung saya sudah besar, kalau masih kecil, mungkin saya langsung berlari ke kaki pelangi untuk mencari kurcaci dan tumpukan emasnya.

Catatan Biaya (plus sampai ke Sempu) :

Tiket ekonomi Bandung-Solo : Rp 37.000,-
Carter angkot stasiun-terminal Tirtonadi : Rp 40.000,- (8.000,-/orang)
Bus Tirtonadi-Boyolali : Rp 5.000,-
Bus Boyolali-Cepogo : Rp 5.000,-
Bus Cepogo-Selo : Rp 5.000,-
Biaya pendaftaran Merapi : Rp 5.000,-

Naik-Turun Gunung

Carter mobil Selo-Terminal Boyolali : Rp 15.000,-/orang
Bus Boyolali-Solo : Rp 5.000,-
Bus Solo-Surabaya (Terminal Purabaya) : Rp 28.000,-
Bus Surabaya-Malang (Terminal Arjosari) : Rp 8.000,-
Angkot Arjosari-Terminal Gadang : Rp 4.000,-
Bus Gadang-Turen : Rp 4.000,-
Angkot Turen-Sendang Biru : Rp 15.000,-
Perahu Sendang Biru-Sempu : Rp 100.000,- (20,000/orang)
Sewa sepatu karet untuk di Sempu : Rp 15.000,-
Bayar penginapan di Sendang Biru : Rp 100,000,-/2 kamar (20.000/orang)

Advertisements