Suku Sasak, tenun, dan Desa Sade

Yeyy!! Akhirnya sukses juga mengunjungi suku sasak!

Sebagai anak sr dan penyuka seni tradisi (ceilah), suku sasak yang berlokasi di Lombok ini termasuk suku yang menarik untuk dikunjungi karena tenunnya dan akulturasi budaya yang masih terjaga sampai sekarang.

Sesampainya di desa, kami diminta uang masuk sukarela, dan kemudian ditemani oleh seorang guide yang menjelaskan serba-serbi desa. Sebagai desa turis yang memang dimaksudkan untuk menyajikan budaya Sasak, Desa Sade terlihat masih mempertahankan kultur-kultur nenek moyangnya. Mulai dari rumah adat yang lantainya terbuat dari campuran tanah liat-dedak padi dan dibersihkan dengan kotoran kerbau/sapi, sampai lumbung padi yang hanya boleh dimasuki oleh para ibu yang sudah menikah, karena konon katanya anak gadis akan mandul bila mengambil padi dari lumbung.

Lumbung Padi

Bagian depan rumah-rumah Desa Sade sengaja dibuat pendek agar para tamu ‘nunduk’ sebagai penghormatan untuk si empunya rumah. Rumah terdiri dari 2 bagian; bagian depan untuk tempat tidur orang tua dan anak kecil, sedangkan bagian belakang dipakai sebagai dapur, tempat tidur gadis, dan tempat melahirkan. Di Lombok ada tradisi unik, bila sepasang kekasih ingin menikah, si laki-laki harus ‘menculik’ di perempuan dari rumahnya tanpa sepengetahuan orang tua si perempuan, mereka kawin lari dan baru memberi kabar beberapa hari kemudian. Orang tua perempuan justru akan merasa terhina bila ada lamaran resmi seperti yang berlaku umum di masyarakat. Oleh karena itu ruang gadis ditaruh di belakang tanpa jendela. Mungkin supaya tidak terjadi penculikan beneran kali ya?

Cara berpacaran disini pun berbeda, ‘pacar’ bagi para perempuan Lombok adalah para lelaki yang mengapel ke rumahnya untuk menarik perhatian. Bisa saja ada seorang perempuan yang sepuluh pacarnya mengapel sekaligus. ‘Kekayaan’ para calon suami ini ditentukan oleh banyaknya sabun yang diberikan sebagai hadiah seusai lebaran. Yak, sabun sodara-sodara! Bukan coklat/buku/boneka sebagai hadiah, tapi sabun. Murah meriah sekali cara untuk menyenangkan pacar disini 😀

Bale Tani, rumah tetua disana

Bagian depan rumah

Bagian Belakang

Suasana Desa Sade

Hukum di desa ini ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama. Bila seseorang melakukan kesalahan, hukuman bisa bervariasi mulai dari denda Rp 25.000,- untuk yang mengapel pacar tanpa baju adat, sampai dibunuh bagi mereka yang berselingkuh..!

Para lelaki di desa ini umumnya bekerja sebagai petani, sementara para perempuan menenun. Mereka belajar menenun sejak umur 10 tahun, dan kepandaian ini menjadi salah satu syarat untuk menikah. Motif tenun khas suku sasak adalah yang bergambar rumah adat mereka. Walaupun motif yang ada cukup banyak, sayangnya hanya sedikit yang merupakan tenun tangan langsung dan menggunakan bahan alami. Mungkin faktor ekonomi dan waktu menjadi pertimbangan untuk menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Tenun tangan

Bahkan ada seorang nenek yang masih setia menenun, wow

Salah satu motif khas Suku Sasak

Banyak tempat seperti ini yang memajang dan menjual tenun kepada para turis

Advertisements