Lombok-Gili Trawangan part #2

Setelah sempat bermalam di pinggir air terjun Desa Senaru, kami pun melanjutkan perjalanan. Kami menghubungi supir elf yang mengantarkan kami dari Lembar ke Aikmel. Kali ini kami diantar dari Desa Senaru sampai Bangsal, tempat penyebrangan ke Gili Trawangan. Kami diturunkan di sebuah pelataran yang berjarak sekitar 500 meter dari dermaga. Bagi yang tidak kuat berjalan kaki bisa menggunakan jasa delman (atau cidomo menurut istilah mereka). Kami memutuskan untuk berjalan kaki saja selagi badan masih segar dan juga memanfaatkan kapasitas paru-paru yang membesar sehabis turun dari gunung.

Perjalanan Desa Senaru-Bangsal-Gili Trawangan :

  • Desa Senaru-Bangsal : elf, 2 jam, Rp 40.000,- (240.000 untuk carter elf dibagi 6)
  • Bangsal-Gili Trawangan : perahu, 1 jam, Rp 10.000,-

Dan bum! Sampailah kami di Gili Trawangan. Kesan pertama kami adalah pantainya indah banget! Pasir putih bersih bertemu dengan air laut yang jernih berwarna biru kehijauan. Suasana pun terasa sangat santai dan menenangkan. Kami mampir di pos jaga, menitipkan carrier dengan membayar Rp 1.000,- lalu mulai jalan-jalan mengitari pulau.

-kapal penyebrangan di pantai Gili-

Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari ATM berhubung kantong sudah menipis. Di pantai tersedia atm bersama, sehingga kami tidak perlu berjalan jauh mencarinya.

Untuk urusan makan, Gili menyediakan banyak variasi. Mulai dari sate lilit Rp 1.000/tusuk, nasi bungkus 5.000-an, sampai beragam cafe dan restaurant dengan harga berkisar 25.000 sampai ratusan ribu rupiah. Berhubung mental mahasiswa kami masih kuat, kami beramai-ramai lesehan membeli sate lilit, yang ternyata rasanya lumayan lezat.

-aneka sate lilit-

Kami pun sempat mampir ke masjid di tengah pulau, sekaligus menyewa sepeda untuk berpesiar keliling pulau. Pulau ini tidak terlalu besar, dalam waktu setengah jam kami selesai menelusuri pantainya. Banyak bar dan cafe dengan interior menarik, banyak pula cottage-cottage indah dilengkapi dengan macam-macam fasilitas. Intinya pulau ini memang terlihat sangat komersil dan menyediakan kenyamanan yang mewah untuk para turis berduit.Transpotasi  yang tersedia di pulau ini hanya sepeda dan cidomo. Tidak ada deru mesin kendaraan yang terdengar, sehingga deburan ombak pantai terdengar jelas memanjakan telinga. Masuk sedikit melalui gang di dekat dermaga, terdapat pasar lokal yang menjual kebutuhan sehari-hari. Salah seorang teman kami, Yunus, sempat mendapat harga murah meriah ketika membeli kelapa muda. Sepertinya si penjual menyangka dia penduduk lokal (memang tampangnya sangat merakyat sekali saudara-saudara, haha). Sayangnya begitu kami beramai–ramai menyusul, si penjual langsung menaikkan harga dua kali lipat. Oh nasib turis..

-Cidomo, hati-hati dengan kendaraan satu ini, karena dia berjalan cepat dan tidak berhati-hati di tengah kerumunan orang. Terserempet cidomo barang sejari dua jari menjadi hal biasa disini-

Peralatan snorkel banyak disewakan di sepanjang pantai. Kami menyewa empat buah, dan sepanjang sore kami sibuk menyelam menikmati alam bawah laut. Air yang sangat jernih membuat terumbu karang terlihat jelas, beberapa kali kami pun sempat melihat kerumunan ikan dan kura-kura.

  • Harga sewa sepeda : Rp 25.000,-/ hari (atau bisa 2 hari tergantung kemampuan anda menawar)
  • Harga sewa alat snorkel (kaki katak dan alat pernapasan) : Rp 30.000,-/ hari

Aku bersyukur pantai Gili ini masih cukup ‘perawan’, hampir tidak ada sampah berserakan, turis yang datang kesini pun masih terbilang sedikit, itu pun kebanyakan orang asing. Menjelang malam, kami mulai berbenah. Setelah menumpang mandi di salah satu mushola pinggir pantai, kami pun mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Ya, kami memutuskan kemping di pinggir pantai demi misi untuk berhemat. Sayang menurut teman saya yang baru bulan lalu kesana, para backpacker tidak diperbolehkan lagi bertenda di pinggir pantai, karena seluruh pantai telah ada pemiliknya alias telah dibeli. Hufftt,, aku jadi merasa beruntung sempat menginap disini, tidur beralaskan pasir yang empuk dan terbangun oleh bunyi ombak yang hanya berjarak 10 meter.

Selesai mengatur tenda kami pun melanjutkan bersepeda mencari makan. Iseng-iseng kami memutuskan untuk makan di salah satu cafe. Sekali-kali makan mahal tidak apa-apalah, pikir kami. Beberapa loyang pizza dan mangkuk salad menjadi selingan menarik di tengah nasi bungkus dan makanan kaleng seminggu terakhir ini. Untunglah kami hanya perlu merogoh kantong sebanyak dua puluh lima ribu rupiah, karena kebetulan sedang ada promo di salah satu cafe.

Kehidupan malam di pulau ini cukup berwarna. Minuman keras, bahkan magic mushroom tampak dijual bebas. Para turis memenuhi pub dan bar, berjoget diiringi musik keras dan lampu disko berkerlap-kerlip. Tampak meriah dan hedonis. Berhubung kami sudah lelah, kami langsung kembali ke tenda dan tidur dengan nyenyak karena kecapaian.

Keesokan harinya kami bersepeda sebentar, makan nasi bungkus di pantai kosong sebelah timur. Rasanya seperti pantai pribadi karena benar-benar tidak ada seorangpun di sekeliling kami. Kami bermaksud sampai ke Bali malam ini, sehingga saat matahari mulai meninggi kami bergegas kembali dan membereskan tenda.

-tenda kami yang berantakan-

Gili Trawangan-Bangsal : perahu, 1 jam, Rp 10.000,-Perjalanan Gili Trawangan-Bali :

  • Bangsal-Lembar : elf, 3 jam, Rp 40.000,-
  • Lembar-Padang Bai (Bali) : ferry, 4 jam, Rp 36.000,-
  • Padang Bai-Denpasar : minibus, 2 jam, Rp 40.000/orang (kami terpaksa mencarter minibus karena kami sampai jam 1 pagi, dan bus biasa sudah habis trayeknya. Seharusnya bus biasa dari Padang Bai ke Denpasar hanya berkisar 20.000-25.000/orang)

Pukul 3 pagi, akhirnya kami sampai di rumah milik ibu kos Dika, yang mengizinkan kami menginap selama kami berada di Bali.

Advertisements